9 Tips Meminimalisir Drama Asisten Rumah Tangga



Tahun ini saya tidak menulis drama asisten rumah tangga (ART) karena ART saya masih kerja, di atas satu tahun. Buat saya ini prestasi, walaupun di tengah-tengahnya tetap ada drama. Jadi di postingan ini saya mau berbagi tips, bagaimana cara meng-handle ART supaya meminimalisir drama.

1. Sumber terpercaya
Ambil ART dari sumber yang terpercaya, baik itu makelar, maupun kenalan, atau penyalur. Jujur saya, dari makelar saya belum pernah, jadi saya tidak ada pengalaman dan rekomendasi penyalur terpercaya. Pertimbangan saya tidak mengambil dari penyalur adalah biaya admin yang mahal, dan biasanya kekuatan hukum juga kurang jelas apabila terjadi wanprestasi.

2. Lakukan interview
Interview ini bisa banyak macam wujudnya, bisa lewat whatssap, video call, atau bertemu langsung dengan calon pekerja. Bila perlu, miliki akun media sosialnya. Pastikan juga pekerja tidak memiliki kekurangan (pengalaman saya, pernah dapat yang pendengaran dan penglihatan agak kurang sehingga menghambat kinerja). Jika saat interview sudah "kurang sreg" sebaiknya sih tidak usah dilanjutkan, karena biasanya berujung lebih parah.

3. Pasang CCTV
Ini mutlak sih buat saya. Memang mahal, namun dari CCTV bisa dijadikan bukti untuk memidanakan pekerja jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

4. Berikan job description yang jelas di awal, termasuk hak dan kewajiban
Job description di sini sebaiknya ditulis dan diprint, lalu ditempel di tempat yang mudah terlihat. Kenapa harus dicetak? Ya karena mengurangi kerjaan kita untuk ngomong, apalagi saya termasuk yang tidak senang mengulang-ulang ya. Saya sendiri tidak suka berinteraksi terlalu dekat, memang harus ciptakan jarak. She should know who is the boss. 

5. Jangan pernah memberikan "lebih" dari kesepakatan awal
Ini banyak terjadi sih, tiba-tiba ijin pulang kampung dengan alasan nenek meninggal, padahal nenek yang bersangkutan memang sudah lama tiada. Memberikan sesuatu melebihi ekspektasi akan membuat kita punya "harapan" terlalu tinggi, dan tanpa sadar minta "dimengerti". Selain itu, ART juga tidak pernah saya kasih pinjam uang melebihi waktu kerja. Jadi kalau mau pinjam uang ya maksimal sejumlah gaji yang seharusnya sudah diterima, tidak lebih. Tidak disarankan juga memberikan pinjaman, apapun alasannya, karena biasanya "pinjaman" ini adalah sebuah test dari para ART kepada majikannya. Apabila berhasil, maka ke depannya tidak segan meminjam lebih banyak lagi.

6. Cek dan awasi
Ingat, yang kita hadapi ini adalah low entry worker. Pekerja kantoran saja bisa pura-pura kerja, apalagi yang kerja sebagai ART. Jangan pernah percaya 100% siapapun yang kerja. Di sini bukan setiap saat pantau CCTV, tidak, namun misalnya kita minta jaga anak, pada saat anak sama kita maka kita cek, misal ada tanda-tanda trauma, kekerasan, cek tempat sampah rumah dan tempat sampah komplek siapa tau makanannya dibuang dll.

7. Tidak menganggap mereka sebagai keluarga
Di sini saya tidak menghimbau untuk galak dan jahat ya, jadi di sini saya biasanya saya ya bersikap apa adanya, tidak suka terlalu murah hati, dan memang gaji dan cuti ya sesuai kesepakatan. Kerja ya kerja buat saya, tidak ada anggapan sebagai saudara. Jadi bukan berarti kita galak, menindas, justru tidak boleh. Sebisa mungkin perlakukan dengan manusiawi, kalaupun memang kita ada aturan yang ketat, ya dikatakan di awal.

8. Review kembali kinerjanya, dan berikan masukan dengan hati-hati
Berbicara dengan ART ini tricky, kalau keras dikira cerewet, kalau terlalu baik jadi ngelunjak, walaupun tidak semuanya seperti ini. Tapi mereka ini kaum yang mudah baper dan merasa teraniaya, jadi memang sebaiknya jangan tiba-tiba diserang. Sebagai contoh, saya pernah baca di grup ibu-ibu galau, salah seorang member memosting kalau beliau (si ART ini) bekerja dan bos-nya kebetulan lagi makan dan nggak nawarin. Terus baper, sedih, curhat di grup. Padahal di job description sudah ada gajinya kan, dan gajinya itu tidak include bosnya perlu banget menawarkan saat makan. Nggak penting banget, tapi hal-hal seperti ini ada.

9. Maksimalkan gadget untuk membantu pekerjaan
Ini mutlak buat jaga-jaga jika mendadak ART tidak masuk, atau mendadak kabur, atau kondisi dadakan lain-lainnya.  Gadget di sini ya gadget rumah tangga: mesin cuci, pel semprot, sapu yang model wiper dan disposable, juga panggil jasa jika diperlukan.

Overall pada intinya sih saya lebih prefer menciptakan satu jarak, kesenjangan gitu, supaya tidak terlalu melawan dan sok berkuasa, apalagi kalau kerja sudah lama. Cara ini juga baru saya terapkan setelah ART saya beberapa tahun lalu kabur dengan sengaja mendadak ganti nomer dan tidak kembali, setelah meminjam uang sebesar 1 juta. Ya, hanya demi uang yang tidak seberapa, mengorbankan kepercayaan. Dan memang kaum-kaum ini ya eksis, saya juga butuh keberadaannya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa berurusan dengan pekerja apalagi level ART ini juga menguras kesabaran, tapi jika dipersiapkan di awal dengan lebih cermat, biasanya pada pelaksanannya juga minim drama. Walaupun, tidak terlepas dari kemungkinan drama yang di luar dugaan.


Image source from pixabay

See you in my next post, please drop comment below so we can know your experience too

2 comments

  1. Saya setuju semuanyaa, termasuk setuju dengan menjaga jarak.
    Pekerja2 model begini umumnya klo kita sudah baiik banget tanpa jarak menganggap sdh spt kel sendiri, eh ngelunjak. Walopun gak semuanya. Satu yg saya catat, biar yg jenis baik bagemanapun klo saatnya mereka mau pergi tetap tak satuhalpun bisa menghalangi. Anak kita sakit sekalipun. Jadi jgn terlalu baper menghadapi mereka. Sesuai hak dan kewajiban saja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya biasanya yg banyak dibuat baper malah yang menganggap mereka ini sebagai keluarga. Kalau memang sudah mau berhenti sekalipun belum ambil gaji kadang juga tetep cabut

      Delete